Singapura adalah negara tetangga yang termasuk salah satu negara maju di dunia. Letaknya yang strategis membuat negara mungil ini ramai dan menjadi kota sekaligus negara pelabuhan internasional. Jarak yang tidak begitu jauh membuat Singapura layak menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi.
Berawal dari perjalanan dinas saya ke Kota Batam, rencana mengunjungi Singapurapun muncul secara tiba-tiba. Tidak ada perencanaan khusus, ini adalah kali pertama saya mengunjungi Singapura.
Teman saya yang kebetulan bertugas di Provinsi Kepulauan Riau sudah siap mengantar saya untuk menikmati Singapura.
Berangkat dari Batam dengan menggunakan Majestic Fast Ferry kami menempuh perjalanan selama 45 menit. Tiket sendiri bisa dibeli langsung di gerai Alfamrat terdekat dengan harga yang terbilang murah yaitu Rp. 350.000,- untuk perjalanan pulang pergi. Tak lupa sayapun sudah menukarkan uang sebanyak 50SGD dengan kurs saat itu Rp. 11.100,-.
Akhirnya kapalpun berlabuh di Harbourfront Singapura, kamipun bergegas menuju keimigrasian. Ini adalah waktu yang begitu menyebalkan bagi saya, karena ditahap ini saja sudah memakan waktu sekitar satu jam lebih. Setelah lolos di keimigrasian, sayapun membeli kartu yang dinamakan EZ-link, fungsinya sebagai alat pembayaran transoprtasi di Singapura, harganya adalah 12SGD dengan saldo didalamnya sebesar 5SGD.
Hal yang membuat saya terkagum dengan Singapura adalah negaranya yang begitu bersih dan teratur, bahkan berjalan di eskalatorpun dilakukan secara tertib begitu juga ketika sedang mengantri masuk kedalam kendaraan umum. Bahasa yang digunakan di Singapura adalah Inggris, Melayu, Tamil, dan Mandarin.
Tujuan pertama saya adalah Sentosa Island atau lebih dikenal dengan nama Universal Studio. Alat transportasi yang digunakan adalah bus. Sepanjang perjalanan sayapun menikmati tata kota yang begitu rapi.
Sesampainya di Sentosa Island, kamipun langsung santap siang ditempat yang telah disediakan. Saya sendiri membawa bekal makanan dari Indonesia, selain murah makanannya juga sudah terjamin halal. Berburu foto di depan ikon Universal Studio bersama wisatawan dari seluruh dunia lainnya adalah pengalaman yang begitu menyenangkan, tak jarang juga kami melakukan sedikit obrolan sekedar saling bertanya mengenai perjalanan masing-masing. Puas di Sentosa Island, perjalanan dilanjutkan menuju Chinatown. Untuk menuju kesini saya kembali terlebih dahulu ke Harbourfront dengan menggunakan bus baru melanjutkan perjalanan dengan menggunakan MRT.
Chinatown sendiri lebih mirip seperti Pasar Baru Bandung, ini adalah pasar tradisionalnya Singapura. Banyak sekali orang yag berjualan disini, dari mulai tukang sol sepatu, aneka makanan, hingga kain ada di Chinatown.
Lelah berkekeling Chinatown, perjalanan dilanjutkan ke Merlion dengan menggunakan MRT dan turun di Raffles Place. Merlion adalah salah satu spot foto favorit di Singapura. Selain patung air mancur singa, saya juga menikmati gagahnya gedung pencakar langit dan Cavenagh Bridge. Rintik hujan turun siang itu, tapi tak menyurutkan wisatawan yang tengah bersuka cita menikmati Singapura. Di seberang Singapura, Marina Bay sudah tersenyum menunggu bidikan kamera saya. Untuk menuju ke gedung Marina Bay saya cukup berjalan kaki, lumayan jauh tapi keadaan sekitar membuat saya betah sehingga tidak ada rasa capek dalam perjalanan saya waktu itu. Menikmati sejenak megahnya isi dari gedung Marina Bay, perjalanan dilanjutkan menuju Garden By The Bay. Ini adalah konsep hutan kota ala Singapura yang sarat akan teknologi. Bahkan konsep ini sekarang sudah diadopsi oleh Jambi Paaradise dengan citarasa lokal. Menghirup udara ditengah hijaunya taman kota, beristirahat adalah sebuah pilihan yang tepat.
Tanpa terasa waktu sudah mulai malam, perjalanan di Singapura harus segera diakhiri, bahkan rencana makan di Bugis Streetpun dengan berat hati diurungkan. Sebelum pulang ke Indonesia, saya sempat membeli jajanan dengan harga 3SGD, harga yang cukup mahal untuk sekelas ayam krispi.
Setelah menikmati Singapura walau hanya sehari, sayapun mencoba menghitung biaya yang telah saya keluarkan. Ternyata angkanya tidak mencapai 1 juta, dan rinciannya adalah sebagai berikut :
1. Transport Ferry Rp. 350.000,-
2. Ezlink Rp. 130.000,- (12SGD)
3. Jajan Rp. 33.000,- (3SGD)
Total yang dikeluarkan adalah Rp. 516.000,- (46SGD).
Banyak sekali yang harus kita contoh dari Singapura. Negara kecil tanpa Sumber Daya Alam bisa menjadi salah satu negara maju didunia. Kuncinya adalah dari segi manajemen, mental rakyatnya dan pemimpinnya. Semoga saja Indonesia bisa segera mengejar ketertinggalan dari negara tetangganya.
Berawal dari perjalanan dinas saya ke Kota Batam, rencana mengunjungi Singapurapun muncul secara tiba-tiba. Tidak ada perencanaan khusus, ini adalah kali pertama saya mengunjungi Singapura.
Teman saya yang kebetulan bertugas di Provinsi Kepulauan Riau sudah siap mengantar saya untuk menikmati Singapura.
Berangkat dari Batam dengan menggunakan Majestic Fast Ferry kami menempuh perjalanan selama 45 menit. Tiket sendiri bisa dibeli langsung di gerai Alfamrat terdekat dengan harga yang terbilang murah yaitu Rp. 350.000,- untuk perjalanan pulang pergi. Tak lupa sayapun sudah menukarkan uang sebanyak 50SGD dengan kurs saat itu Rp. 11.100,-.
Akhirnya kapalpun berlabuh di Harbourfront Singapura, kamipun bergegas menuju keimigrasian. Ini adalah waktu yang begitu menyebalkan bagi saya, karena ditahap ini saja sudah memakan waktu sekitar satu jam lebih. Setelah lolos di keimigrasian, sayapun membeli kartu yang dinamakan EZ-link, fungsinya sebagai alat pembayaran transoprtasi di Singapura, harganya adalah 12SGD dengan saldo didalamnya sebesar 5SGD.
Hal yang membuat saya terkagum dengan Singapura adalah negaranya yang begitu bersih dan teratur, bahkan berjalan di eskalatorpun dilakukan secara tertib begitu juga ketika sedang mengantri masuk kedalam kendaraan umum. Bahasa yang digunakan di Singapura adalah Inggris, Melayu, Tamil, dan Mandarin.
Tujuan pertama saya adalah Sentosa Island atau lebih dikenal dengan nama Universal Studio. Alat transportasi yang digunakan adalah bus. Sepanjang perjalanan sayapun menikmati tata kota yang begitu rapi.
Sesampainya di Sentosa Island, kamipun langsung santap siang ditempat yang telah disediakan. Saya sendiri membawa bekal makanan dari Indonesia, selain murah makanannya juga sudah terjamin halal. Berburu foto di depan ikon Universal Studio bersama wisatawan dari seluruh dunia lainnya adalah pengalaman yang begitu menyenangkan, tak jarang juga kami melakukan sedikit obrolan sekedar saling bertanya mengenai perjalanan masing-masing. Puas di Sentosa Island, perjalanan dilanjutkan menuju Chinatown. Untuk menuju kesini saya kembali terlebih dahulu ke Harbourfront dengan menggunakan bus baru melanjutkan perjalanan dengan menggunakan MRT.
Chinatown sendiri lebih mirip seperti Pasar Baru Bandung, ini adalah pasar tradisionalnya Singapura. Banyak sekali orang yag berjualan disini, dari mulai tukang sol sepatu, aneka makanan, hingga kain ada di Chinatown.
Lelah berkekeling Chinatown, perjalanan dilanjutkan ke Merlion dengan menggunakan MRT dan turun di Raffles Place. Merlion adalah salah satu spot foto favorit di Singapura. Selain patung air mancur singa, saya juga menikmati gagahnya gedung pencakar langit dan Cavenagh Bridge. Rintik hujan turun siang itu, tapi tak menyurutkan wisatawan yang tengah bersuka cita menikmati Singapura. Di seberang Singapura, Marina Bay sudah tersenyum menunggu bidikan kamera saya. Untuk menuju ke gedung Marina Bay saya cukup berjalan kaki, lumayan jauh tapi keadaan sekitar membuat saya betah sehingga tidak ada rasa capek dalam perjalanan saya waktu itu. Menikmati sejenak megahnya isi dari gedung Marina Bay, perjalanan dilanjutkan menuju Garden By The Bay. Ini adalah konsep hutan kota ala Singapura yang sarat akan teknologi. Bahkan konsep ini sekarang sudah diadopsi oleh Jambi Paaradise dengan citarasa lokal. Menghirup udara ditengah hijaunya taman kota, beristirahat adalah sebuah pilihan yang tepat.
Tanpa terasa waktu sudah mulai malam, perjalanan di Singapura harus segera diakhiri, bahkan rencana makan di Bugis Streetpun dengan berat hati diurungkan. Sebelum pulang ke Indonesia, saya sempat membeli jajanan dengan harga 3SGD, harga yang cukup mahal untuk sekelas ayam krispi.
Setelah menikmati Singapura walau hanya sehari, sayapun mencoba menghitung biaya yang telah saya keluarkan. Ternyata angkanya tidak mencapai 1 juta, dan rinciannya adalah sebagai berikut :
1. Transport Ferry Rp. 350.000,-
2. Ezlink Rp. 130.000,- (12SGD)
3. Jajan Rp. 33.000,- (3SGD)
Total yang dikeluarkan adalah Rp. 516.000,- (46SGD).
Banyak sekali yang harus kita contoh dari Singapura. Negara kecil tanpa Sumber Daya Alam bisa menjadi salah satu negara maju didunia. Kuncinya adalah dari segi manajemen, mental rakyatnya dan pemimpinnya. Semoga saja Indonesia bisa segera mengejar ketertinggalan dari negara tetangganya.






Comments
Post a Comment