Skip to main content

Siapa Takut Jadi Petani

  

Pertanian adalah sektor yang memegang peranan penting dalam sebuah negara. Sebagai penyedia kebutuhan pokok dan bahan baku, sektor ini juga menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit. Namun sangat disayangkan, minat dari generasi muda untuk menjadi petani sangatlah jarang, karena petani selalu diidentikan dengan pekerjaan yang bermain dengan lumpur dan panas-panasan dibawah terik matahari. Para petani kita saat ini rata-rata berusia 45 tahun keatas, artinya mereka sudah memasuki usia pensiun. Bahkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa pekerja di sektor pertanian per Agustus 2018 berjumlah 35,7 juta orang atau 28,79% dari jumlah 124,01 juta jiwa penduduk yang bekerja. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,89% dari tahun sebelumnya.

Mengapa generasi milenial enggan menjadi petani?. Generasi milenial saat ini lebih memilih untuk bekerja kantoran. Padahal ketersediaan lowongan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja itu sendiri. Terbatasnya lowongan kerja adalah tantangan dan peluang bagi para milenial untuk berinovasi dan berkreatifitas. Dengan memanfaatkan teknologi maka pertanian akan lebih maju, apalagi saat ini kita sedang berada dalam era Revolusi Industri 4.0.

Generasi muda dikenal sebagai generasi yang menyukai tantangan, punya semangat yang tinggi, serta kekinian. Selain itu, generasi milenial juga dikenal sebagai generasi yang produktif dan sangat dekat dengan teknologi. Keberlangsungan pertanian saat ini ada ditangan mereka, sehingga diharapkan para generasi ini dapat menjadikan pertanian lebih maju dan modern.

Siapa bilang menjadi petani itu masa depannya suram ? Menjadi petani ternyata sangat menjanjikan. Banyak sekali kisah sukses dan menginspirasi dari generasi milenial yang berkecimpung didunia pertanian. Kisah pertama datang dari Ujang Margana, seorang petani milenial dari Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, seperti dimuat oleh regionalkompas.com. Berawal dari menggarap sepetak tanah yang diberikan orang tuanya, waktu itu Ujang masih duduk dibangku SMA. Ujang belajar bertani dimulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga panen, bahkan hasil panennya diserahkan semuanya oleh orang tuanya kepada Ujang, tujuannya satu untuk melatih Ujang agar mandiri, dan memberikannya motivasi agar lebih giat lagi dalam belajar bertani

Ujang mulai menyadari bahwa potensi pertanian itu sangatlah besar, walaupun tidak mengambil jurusan pertanian saat kuliah, Ujang memilih kampus yang dekat dengan rumahnya. Belajar manajemen waktu dan melatih agar lebih disiplin, Ujang membagi waktunya baik sebelum maupun setelah pulang kuliah dengan memelihara kebun garapannya.

Setelah lulus kuliah, Ujang semakin mantap untuk menjadi petani. Orang-orang disekitarnyapun diajak untuk membentuk kelompok tani yang bernama Kelompok Tani Tricipta. Banyak perubahan yang dibuat oleh Ujang dan kelompok taninya, dari mulai menstabilkan harga komoditas hingga membuat terasering.

Menjelang hari raya Idul Fitri tahun 2006, harga bawang merah sempat mengalami kenaikan yang signifikan. Ujang bersama kelompok taninya berusaha untuk menekan harga pasar. Saat itu harga bawang merah berkisar antara Rp. 40.000 hingga Rp. 50.000 per kilogramnya di Bandung, sementara di Jakarta harganya lebih tinggi lagi yaitu Rp. 60.000 hingga Rp. 70.000 per kilogramnya. Kelompok Tani Tricipta malah menjual bawang merah dengan harga Rp. 20.000 perkilogramnya. Ujang bersama Kelompok Tani Tricipta meyakini jika mereka ikut menaikan harga keuntungan yang akan diperoleh hanyalah sementara. Mereka mengkhawatirkan jika pada akhirnya bawang merah impor masuk ke Indonesia dan justru membuat para petani merugi. Jika hal ini terjadi, para petani akan mengalami kerugian hingga tiga musim panen. Langkah yang diambil oleh Ujang dan Kelompok Taninya telah membantu Pemerintah dalam menstabilkan harga.

Keberhasilannya menstabilkan harga bawang merah membuat Ujang dipanggil oleh Presiden Joko Widodo ke Istana Negara. Ujang mendapatkan penghargaan tingkat nasional sebagai pemuda tani teladan. Sebelumnya, Ujang terpilih menjadi petani teladan tingkat Kabupaten Bandung dan juga Provinsi Jawa Barat.

Ujang bersama kelompok taninya juga mempunyai kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya adalah persoalan banjir di Jalan AH Nasution Kota Bandung yang airnya berasal dari daerah Cimenyan, sehingga ia berinisitaif untuk membuat terasering.

Terasering merupakan metode bercocok tanam dengan membuat teras-teras untuk mengurangi panjang lereng. Terasering ini akan menahan air sehinga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, serta memperbesar peluang penyerapan air oleh tanah. Selain itu, daerah dimana Ujang tinggal menjadi bagian percontohan desa digital. Bahkan, ketika ia bepergian, ia masih bisa memantau kebunnya dan menyiram pohon bawangnya lewat aplikasi di gadget.

Dari kisah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa membuat perubahan akan semakin mudah jika dilakukan bersama-sama. Ujang melakukan berbagai perubahan tidak sendirian, tetapi bersama kelompok taninya.

Dengan membentuk kelompok tani segala macam permasalahan dan keterbatasan dapat ditangani bersama-sama, para petani juga dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam menjalankan usaha taninya. Diharapkan produktivitas meningkat, pendapatan bertambah dan kehidupan yang lebih sejahtera.

Satu hal yang lebih penting ketika kita mulai melakukan usaha adalah bukan hanya seberapa besar keuntungan yang diperoleh, lebih dari itu seberapa banyak manfaat dan dampak positif yang diberikan oleh kegiatan usaha kita bagi lingkungan sekitar.

Kegiatan usahatani yang dijalani oleh Ujang tidak hanya memberikan keuntungan bagi diri sendiri. Masyarakat sekitarpun bisa ikut diberdayakan dan tentu saja memberikan tambahan penghasilan bagi mereka.

Badan Pusat Statistik mencatat setahun terakhir pengangguran bertambah 60 ribu orang, dan jumlah angkatan kerja per Pebruari 2020 adalah 137,91 juta orang. Diharapkan sektor pertanian bisa menyerap jumlah angkatan kerja dan jumlah pengangguran yang angkanya cukup tinggi tersebut. Dari angka 137,91 juta angkatan kerja, semuanya adalah generasi milenial.

Anggapan pertanian itu harus menggarap tanah yang luas serta bermain dengan tanah berlumpur dan bekerja dibawah sinar matahari adalah pemikiran lama. Dunia pertanian itu luas, ada beberapa subsektor didalamnya dan tidak hanya sebatas menanam tanaman kemudian panen. Banyak sekali peluang usaha yang bisa diciptakan, dari mulai menyediakan sarana dan prasarana pertanian, usaha pembibitan, budidaya tanaman, pengolahan hasil pertanian menjadi makanan maupun souvenir cantik, peternakan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ditengah banyaknya peluang tersebut, menuntut kita untuk semakin kreatif. Dari sinilah akan muncul istilah pertanian cerdas. Menurut Food and Agriculture Organization atau FAO yaitu organisasi yang membidangi urusan pangan dan pertanian dunia, menyebutkan bahwa pertanian cerdas merupakan pertanian dengan konsep yang mengacu pada penggunaan teknologi modern dengan tujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk.

Dalam pertanian cerdas, para petani dituntut untuk bisa menggunakan sistem GPS, pemindai tanah, mengelola data, dan memanfaatkan Internet of Things (IoT) untuk mendapatkan strategi penanaman yang lebih baik dan meningkatkan efektivitas penggunaan pestisida serta pupuk. Saat ini, baru dua negara di dunia yang bisa menjadi negara pertanian cerdas karena kebijakan dan perencanaannya, yaitu Belanda dan Selandia Baru.

Konsep kebun dengan pertanian cerdas (Foto : Gizmologi)

Jika dibandingkan dengan Indonesia, maka Belanda bukan apa-apanya dari segi luasan lahan. Negara kincir angin tersebut hanyalah memiliki luasan lahan pertanian 17.960 (sq. km), tapi mampu mengekspor produk-produk pertanian senilai 90,3 (billions euro), terbesar kedua setelah Amerika Serikat, data tersebut merupakan data tahun 2018. Dengan demikian, Belanda menjadi penopang pangan dibenua Eropa, produk utamanya adalah hortikultura, susu, daging, buah-buahan, dan juga sayur-sayuran.

Sepertiga wilayah Belanda berada dibawah permukaan laut, dan mempunyai tingkat kepadatan penduduk 1.300 (per square mile). Untuk industri pertanian dengan skala besar tentunya ini merupakan hal yang sangat mustahil, tetapi kenyatannya, Belanda malah mampu membangun pertanian yang ramah bagi petani, dan sangat menguntungkan secara industri. 

Lantas hal apa saja yang bisa membuat Belanda berhasil dibidang pertanian ?. Jawabannya adalah teknologi. Negara tersebut mampu mengembangkan teknologi pertanian sesuai dengan karakteristik wilayahnya. Teknologi yang digunakan Belanda adalah Greenhouse dan menerapkan pertanian presisi.

Greenhouse (Foto : Rimol Greenhouses)

Dengan menggunakan greenhouse, kegiatan pertanian tidak lagi terpengaruh oleh musim dan cuaca, apalagi akhir-akhir ini dampak pemanasan global sudah banyak dirasakan salah satunya adalah cuaca yang tidak menentu, hal tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap pertanian. Selain itu, pertanian dengan model greenhouse dapat meningkatkan hasil produksi. Hal ini dikarenakan serangan hama bisa diminimalisir. Selain itu penggunaan insektisida juga berkurang, berbeda dengan pertanian dilahan terbuka.

Pertanian organik adalah pertanian yang sering dikembangkan dalam greenhouse, hal ini membuat kualitas, kuantitas, serta harga produk menjadi lebih baik. Greenhouse juga didukung dengan model pertanian hidroponik yang sangat membantu meminimalisir hilangnya unsur hara akibat pencucian dan fiksasi.

Menurut Shibusawa (1998) pertanian presisi adalah konsep pertanian dengan pendekatan sistem untuk menuju pertanian dengan rendah pemasukan (low-input), efisiensi tinggi, dan pertanian berkelanjutan. Namun ada juga definisi lain yang menyebutkan bahwa, pertanian presisi adalah sistem pertanian yang mengoptimalkan penggunaan sumberdaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan juga mengurangi dampak terhadap lingkungan. Konsep yang diperhatikan diantaranya dengan pendekatan sistem yang memperhatikan Input, Proses, dan Output. Sederhananya pertanian presisi adalah pertanian secara tepat guna, sesuai dengan namanya yaitu presisi yang diambil dari bahasa inggris, precision yang artinya tepat. Bantuan perangkat teknologi digital sangat diperlukan dalam pertanian presisi, hal ini tentunya digunakan untuk membantu petani dalam menghitung jarak tanam yang tepat, kebutuhan benih dan pupuk yang tepat, serta umur panen dan jumlah panen yang tepat. Itu semua dibarengi dengan penggunaan alat mesin pertanian yang serba pintar.

Mampukah Indonesia mencontoh Belanda menerapkan pertanian cerdas?. Tentu saja mampu, Indonesia mempunyai lahan yang sangat luas, jangankan untuk Greenhouse, bertani dilahan terbuka saja sangat mampu. Generasi milenial dengan segala kelebihannya diharapkan bisa mengadopsi teknologi tersebut dan mengembangkannya. Masalah utama yang sering dihadapi adalah permodalan dan skill atau keahlian. Pemerintah sebenarnya sudah sangat banyak memfasilitasinya dari mulai berbagai macam pelatihan di Balai Latihan Kerja ataupun di Balai Pelatihan Pertanian, dan bantuan modal usaha lewat berbagai macam program. Dari semua kemudahan tersebut, maka sepatutnya para generasi milenial ini tinggal mengeksekusi saja.

Ada beberapa cara atau pendekatan dalam hal mendukung kegiatan pertanian presisi di Indonesia. Dimulai dari pemilihan benih yang harus tepat lokasi, tepat kondisi iklim, dan tepat kondisi lingkungan. Peta lokasi kebanjiran dan kekeringan serta daerah endemis hama dan penyakit sudah ada datanya di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Litbangtan) sehingga memudahkan dalam membuat peta produksi dengan berbagai macam kebijakannya. Selain itu, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) juga selalu meliris perubahan musim. Ini yang dipakai oleh para petani untuk memutuskan pemilihan bibit yang tepat.

Pengolahan lahan juga perlu diperhatikan, yaitu dengan pengolahan intensif atau maksimum. Pengolahan tanah ini juga disebut sebagai pengolahan tanah sempurna yaitu dengan melakukan pengolahan tanah dari mulai dibajak, penjemuran, penggaruan, pemberian pupuk dasar, pembuatan bedengan, serta pembuatan saluran drainase.

Selain pemilihan bibit dan pengolahan tanah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan juga seperti cara tanam dan pengairan. Untuk tanaman padi sebaiknya dengan menggunakan sistem jajar legowo dan pengairan macak-macak. Dengan sistem jajar legowo, akan terdapat ruang terbuka yang lebih lebar diantara dua kelompok barisan tanaman yang akan memperbanyak cahaya matahari masuk ke setiap rumpun tanaman padi, sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis yang berdampak pada peningkatan produktivitas tanaman. Sistem tanaman berbaris ini memberi kemudahan petani dalam pengelolaan usahataninya seperti melakukan kegiatan pemupukan susulan, penyiangan, serta pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit atau penyemprotan. Disamping itu pengendalian hama tikus lebih mudah untuk dilakukan dalam sistem ini. Pada sistem jajar legowo memungkinkan untuk meningkatkan jumlah tanaman pada kedua bagian pinggir untuk setiap set legowo, sehingga berpeluang untuk meningkatkan produktivitas tanaman akibat peningkatan populasi. Sistem tanaman berbaris ini juga berpeluang bagi pengembangan sistem produksi padi-ikan (mina padi) atau parlebek (kombinasi padi, ikan, dan bebek). Produktivitas padi dengan menggunakan sistem jajar legowo yaitu bisa mencapai 10-15% dibandingkan sistem konvensional.

Pemupukan dan penggunaan pestisida juga harus dilakukan secara bijaksana. Pemupukan tepat dosis sesuai dengan kebutuhan unsur hara tanaman dan penggunaan pestisida dengan memperhatikan kerusakan yang diakibatkan serangan hama dan penyakit. Penggunaan pestisida dilakukan ketika kerusakan diatas ambang ekonomis. Menurut Kusnadi (1980), ambang ekonomis adalah suatu tingkat atau batas toleransi serangan hama dan penyakit terhadap tanaman budidaya. Jika hama dan penyakit yang terdapat pada areal budidaya tanaman berada dibawah ambang ekonomis maka tidak perlu dilakukan pengendalian hama dan penyakit. Sedangkan jika keberadaan hama dan penyakit pada areal pertanaman tersebut diatas ambang ekonomis maka perlu dilakukan pengendalian.

Teknik panen dengan memperhatikan kehilangan hasil. Pada pemanenan tanaman padi secara tradisional kehilangan hasilnya cukup tinggi yaitu berkisar antara 9-10,5 %. Penggunaan mesin saat pemanenan sangat membantu tidak hanya mempercepat proses panen dan menghemat tenaga kerja tetapi juga dapat menekan kehilangan hasil.

Pendekatan terakhir yang perlu ditempuh dalam mendukung pertanian presisi di Indonesia adalah membentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Badan Usaha Milik Petani (BUMP) merupakan kelembagaan ekonomi berbadan hukum yang mensinergikan kegiatan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat tani yang dijalankan secara korporasi yang berorientasi keuntungan untuk mendorong kemandirian petani. Konsep BUMP sebagai hybrid dari lembaga bisnis dan lembaga pemberdayaan. BUMP tidak hanya mengejar keuntungan dalam setiap kegiatannya, akan tetapi justru lebih mementingkan kegiatan pemberdayaan masyarakat utamanya pelaku usaha yaitu para petani. Sebagai lembaga usaha, BUMP sejatinya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari kegiatan usahanya. Hanya saja dalam setiap kegiatan usahanya dapat dijadikan sebuah proses pembelajaran bagi petani.

Lain halnya dengan Selandia Baru. Selandia Baru merupakan negara maju yang mengandalkan produk agrikultur seperti hasil pertanian, perikanan dan perkebunan sebagai kekuatan utama dalam menghasilkan devisa. Hampir 50% komoditas ekspor Selandia Baru berasal dari industri agrikultur yang diekspor ke negara-negara            se­perti Australia, Amerika Serikat, Tingkok, Jepang dan Inggris. Produk-produk pertanian dari negara ini dikenal sebagai produk yang berkualitas.

Lantas hal apa saja yang membuat pertanian di Selandia Baru maju ?. Selandia Baru juga telah menjadi penyedia spesialis pelatihan pertanian dan holtikultura berkualitas. Mereka memiliki staf ahli dengan kualifikasi dan pengalaman dalam pembelajaran orang dewasa yang disiplin dan tepat dalam memberikan kursus dibidang pertanian di seluruh Selandia Baru.   

Faktor lain yang menentukan keberhasilan negara agraris Selandia Baru ialah kesadaran dan kecintaan masyarakat dalam memaksimalkan potensi sumber daya alam. Di Selandia Baru terdapat suatu gerakan pengelolaan lahan atau landcare yang merupakan proses revolusioner dalam pengelolaan lahan, melibatkan petani dan kelompok sosial masyarakat yang bersifat sukarela.

Gerakan landcare dibuat untuk menyelesaikan masalah seperti erosi tanah, rusaknya lahan basah, degradasi lahan, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Tiga prinsip utama landcare adalah teknologi tepat guna, kelompok komunitas lokal yang efektif, serta kemitraan dengan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk memastikan bahwa gagasan dan inisiatif dapat dibagi dan disebarkan.

Menerapkan pertanian cerdas di Indonesia bukan berarti tanpa kendala. Generasi milenial perlu mengetahui beberapa kendala ini sehingga bisa menentukan langkah-langkah penyelesaiannya. Nampaknya agak sulit untuk memperoleh data pertanian. Kita harus memantau ladang pertanian dari ketinggian dengan menggunakan drone. Hal lain yang tidak kalah penting adalah mendeteksi dan memantau kesuburan tanah menggunakan alat tertentu. Kendala lainnya adalah banyak data yang kurang akurat. Data-data tersebut tidak bisa mencerminkan situasi nyata ladang pertanian. Selain itu penyimpanan data relatif terfragmentasi dan belum membentuk efek skala. Dan kendala yang paling kritis adalah perusahaan data pertanian harus memiliki pemahaman mendalam tentang sektor ini dan pengetahuan tentang pembersihan dan analisa data.

Memulai kegiatan bertani bisa kapan saja dan dimana saja. Model pertanian pekarangan akhir-akhir ini cukup populer, dan ini bisa menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan yang mempunyai keterbatasan lahan. Pertanian dan pertumbuhan kota selama ini dianggap saling berlawanan. Lahan yang subur kerapkali dikorbankan untuk membangun apartemen bertingkat tinggi atau jalan baru. Tapi paradigma ini mungkin berubah. Ada tren yang kini berkembang di perkotaan di banyak negara yaitu model urban farming alias pertanian perkotaan, di mana ruang yang belum terpakai dimanfaatkan untuk menanam sayuran, herbal, dan tanaman lainnya.

Pemanfaatan lahan pekarangan bisa mendukung ketahanan pangan nasional dengan memberdayakan potensi pangan lokal yang dimiliki masing-masing daerah. Bagi rumah tangga keluarga, lahan pekarangan mempunyai manfaat dintaranya pemenuhan gizi keluarga, dimana ada beberapa tanaman, ternak dan ikan yang dapat dipelihara di pekarangan tersebut dan tentunya menghasilkan makanan. Umbi-umbian yang ditanam bermanfaat sebagai sumber vitamin, sedangkan ternak dan ikan sebagai sumber protein dan lemak. Jika digunakan sebagai sebagai lumbung ternak, hasil dari usaha pekarangan dapat diambil sewaktu-waktu dan tidak ada musim pacekliknya. Pekarangan juga bisa digunakan sebagai apotik hidup, pekarangan dapat ditanami berbagai tanaman obat yang berkhasiat, jika anggota keluarga sewaktu-waktu sakit dapat ditanggulangi sementara dengan obat yang ada di pekarangan. Jenis tanaman pohon seperti bambu, kelapa, nangka dan tanaman lainnya yang ditanam di pekarangan dapat dijadikan bahan bangunan dan kerajinan rumah tangga. Pekarangan yang ditata dan dirawat secara teratur akan memberikan keindahan dan rasa tentram bagi orang yang melihatnya, sehingga lahan pekarangan tersebut bisa dipakai sebagai sarana rekreasi keluarga.

Program pemerintah dalam mendukung pemanfaatan lahan pekarangan untuk kegiatan pertanian adalah Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Program ini dimulai dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2019. Dalam upaya memperluas penerima manfaat dan pemanfaatan lahan, pada tahun 2020 kegiatan KRPL berubah menjadi Pekarangan Pangan Lestari atau disingkat P2L. Kegiatan P2L dilaksanakan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk penanganan daerah prioritas intervensi stunting dan atau penanganan prioritas daerah rentan rawan pangan atau pemantapan daerah tahan pangan. Kegiatan ini dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif, sebagai penghasil pangan dalam memenuhi pangan dan gizi rumah tangga, serta berorientasi pasar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga.

Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dilaksanakan oleh kelompok masyarakat yang secara bersama-sama mengusahakan lahan pekarangan sebagai sumber pangan secara berkelanjutan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan, serta pendapatan. Program ini memiliki tujuan diantaranya adalah meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan untuk rumah tangga sesuai dengan kebutuhan pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman, serta meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui penyediaan pangan yang berorientasi pasar. Pada tahun 2019 ada 2.300 Kelompok Wanita Tani yang menjadi sasaran penerima manfaat KRPL. Sementara untuk program P2L di Tahun 2020, jumlah penerima manfaatnya lebih besar lagi, yaitu 3.600.

Selain program tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga gencar mensosialisasikan program Obor Pangan Lestari atau OPAL. Obor Pangan Lestari dilakukan dikantor-kantor menjadi sarana percontohan untuk masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga. Tujuan jangka panjangnya adalah sebagai upaya promosi penganekaragaman konsumsi pangan dalam rangka pemenuhan gizi masyarakat.

Lahan pekarangan yang dikelola dengan baik, hasilnya dapat dijual sehingga bisa menambah penghasilan. Kisah inspiratif dalam pemanfaatan lahan pekarangan menjadi ladang bisnis yang menggiurkan ini datang dari Bekasi dan Yogyakarta seperti dimuat oleh moneykompas.com

Diah Meidiantie, seorang Warga Bekasi, Provinsi Jawa Barat telah memanfaatkan lahan pekarangan disekitarnya untuk kegiatan pertanian. Dengan menanami lahan sempit di sekitar rumahnya, Meidiantie dapat meraup untung belasan juta rupiah per bulannya. Bermula di tahun 2008, Meidinatie mendapatkan izin untuk menggunakan lahan seluas 3.500 meter persegi di lingkungan perumahan Taman Galaxy, Bekasi. Ide bercocok tanam muncul ketika Meidiantie melihat masih banyaknya lahan tidur, lalu iapun mengelola tanah itu untuk menanam sayuran organik. Adapun jenis sayuran yang Meidiantie tanam, yaitu kangkung, bayam hijau, bayam merah, pakcoy, dan juga caysim. Meidiatie merupakan alumni dari Institut Pertanian Bogor (IPB), dan demi mendatangkan profit yang tinggi dari kegiatan bercocok tanamnya, ia memasarkan langsung hasil kebunnya ke supermarket terdekat. Meidiantiepun memasarkan sayuran organiknya dengan harga Rp 8.000–10.000 per kilogram. Dalam sepekan Meidiantie bisa memasok sayuran sebanyak tiga kali ke supermarket itu, dan dalam satu kali kirim, dia bisa menyediakan 25-60 kilogram sayuran per jenisnya. Usaha pertanian Meidiantie ini sempat surut pada pertengahan tahun 2010 karena lahan yang bisa dia tanami berkurang. Pengelola perumahan membangun rumah baru di lahan tersebut. Namun kemudian Meidiantie mendapatkan lahan baru seluas 3.000 meter persegi di daerah Ciganjur, Jagakarta, Jakarta Selatan. Hasilnya, panen sayurannya pun bertambah. Tambahan hasil panen mendorong Meidiantie untuk memperluas pasar sayurannya, kini ia tak lagi memasok ke supermarket saja. Meidiantie pun menjual hasil kebun ke warga sekitar. Omzetnya kian melejit, bahkan bisa mencapai Rp 14-30 juta per bulan, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 7-15 juta. Meidiantie mengaku bahwa usahataninya ini modalnya sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp 7,5 juta. Uang sebanyak itu digunakan untuk membayar dua karyawan, serta membeli pupuk dan benih.

Dari cerita Meidiantie, hal yang paling penting adalah menentukan strategi penjualan yang menguntungkan. Cara Meidiantie yang menggandeng supermarket terdekat bisa ditiru. Menjual produk langsung ke gerai biasanya akan mendapatkan harga jual lebih tinggi daripada melalui agen, penadah, tengkulak, ataupun broker.

Cerita lain tentang pertanian pekarangan datang dari Yogyakarta, adalah Wijayanto Wiwik, yang merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, dan saat ini ia merupakan karyawan perusahaan swasta. Wiwik memanfaatkan 900 meter persegi pekarangan rumahnya di Pujokusuman, untuk menyemai bibit tanaman buah. Bibit tanaman yang ia semai mulai dari kelengkeng, mangga, durian, jambu air, hingga tanaman hasil persilangan tanaman lokal dan luar negeri. Setiap bibit tersebut ia jual dari harga Rp 50.000 sampai Rp 2 juta. Per bulan, Wiwik rata-rata mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp 15 juta, atau setara sekitar 70 persen omzet penjualan 14-20 pohon. Baginya berkebun di rumah, selain menghasilkan pemasukan tambahan, juga bisa menjadi obat stres ditengah kesibukannya.

Kisah Sukses Meidiantie dan Wiwik bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Dengan tekad yang kuat, ulet, dan juga kretifitas, mereka berdua telah membuktikan bahwa dari lahan yang penuh keterbatasanpun bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit.

Pertanian pekarangan (Foto : Media Indonesia)

Dari kisah tersebut kita juga belajar bahwa untuk memulai sesuatu bisa diawali dari hal kecil. Bercocok tanam dimulai dari pekarangan, namun apabila usaha tersebut sudah memberikan hasil, jangan berhenti dan berpuas hati dulu. Teknik bertani modern seperti pertanian hidroponik juga bisa dicoba, sehingga dapat meningkatkan penghasilan. Teknik hidroponik sangat cocok diterapkan di lahan terbatas karena tak perlu tanah sebagai media tanam karena cukup memakai air yang sudah dicampur dengan nutrisi atau zat hara.

Sebagai wadah tanaman, pipa paralon yang dirakit atau disusun sedemikian rupa bisa dimanfaatkan, sehingga tanaman yang dimuatpun cukup banyak. Sementara itu, gunakan generator untuk memompa larutan di atas agar bisa mengalir ke seluruh instalasi paralon. Jika cara ini terlalu rumit ataupun mahal, ada cara yang lebih sederhana lagi. Bahan yang diperlukan cukup menggunakan gelas plastik bekas kemasan air mineral, kain flanel, dan rockwool.

Banyak sekali manfaat dari teknik bercocok tanam secara hidroponik. Adapaun manfaat-manfaat tersebut diantaranya : hidroponik tidak tergantung pada tempat dan musim, dengan kata lain luas lahan dan ketinggian tempat tidak menjadi persoalan karena dapat dikelola oleh manusia secara khusus dan kondisi lingkungan terkontrol; teknik budidaya atau bertanam secara hidroponik dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki lahan, bahkan tanaman hidroponik dapat diterapkan oleh penghuni apartemen sempit; dapat menghasilkan mutu yang lebih baik; penggunaan pupuk juga dapat diperhemat karena pemberiannya diatur sesuai kebutuhan tanaman; bebas dari serangan hama dan penyakit yang berasal dari dalam tanah; penanaman secara hidroponik dapat membuat produk bioteknologi sederhana dan baru yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari; serta dapat dilaksanakan oleh pria maupun wanita, baik tua maupun muda.

Sudah banyak sekali petani milenial yang sukses dengan usaha hidroponiknya. Seperti dimuat oleh antaranews.com pemuda asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan bernama Oka Wahyudi berhasil meraih omzet miliaran rupiah dari usaha tani hidroponik yang digelutinya. Kiprah Oka ini tentunya bisa meginspirasi generasi milenial lainnya.

Sebelum memutuskan untuk menjadi seorang petani, Oka sempat membuka bengkel las namun tidak bertahan lama. Inspirasi untuk memulai hidroponik datang ketika Oka menjadi guru olahraga di salah satu sekolah dasar di Bajarmasin. Sekolah tempat Oka mengajar mempunyai lahan yang terbatas, padahal dipersyaratkan ada 20% dari luas wilayah sekolah untuk tanaman dan pelestarian lingkungan hidup. Melihat keadaan seperti itu, Oka mencoba untuk membuat vertikal garden yang ditanami dengan bunga. Oka terus berfikir jika vertikal garden yang ia buat bisa dikembangkan maka sudah pasti akan mendapatkan keuntungan, maka dari itu dimulailah kegiatan menanam sayur mayur dengan model hidroponik dan mencari referensinya lewat internet.

Petani hidroponik, Oka Wahyudi (Foto : Antara)

Kesuksesan yang diraih oleh Oka sekarang tentunya bukan tanpa perjuangan. Bahkan Oka pun sempat beberapa kali mengalami kegagalan. Pada tahun 2016 Oka pernah mengikuti pelatihan kurikulum di Malang, Jawa Timur. Perjalanan dinas tersebut ia manfaatkan dengan melihat langsung budidaya hidroponik. Tahun 2016 Oka menjual hasil sayurannya ke salah satu supermarket, namun karena tidak sanggup mencukupi kebutuhan sayur yang diminta, akhirnya kontraknya diputus.

Jatuh bangun dalam budidaya hidroponik tidak membuat Oka patah semangat. Ia mendapatkan uang pembinaan senilai Rp. 20 juta dari salah seorang politikus melalui tantangan bisnis untuk memberikan modal usaha dalam program mencipatkan wirausaha baru dikalangan anak muda pada tahun 2017.

Oka kembali kekampung halamannya untuk melanjutkan bisnisnya, namun ternyata uang Rp. 20 juta tersebut tidak mencukupi hingga akhirnya ia harus memutar otak untuk mendapatkan tambahan modal. Oka sempat membuat postingan di media sosial seperti Facebook dan Instagram, akhirnya Oka mendapatkan respon dari Dinas Lingkungan Hidup Tapin. Dinas tersebut memesan instalasi hidroponik sebanyak 18 unit. Dari hasil upah jasa pemasangan instalasi akhirnya ia mendapatkan tambahan modal untuk pembuatan pipa.

Setelah sukses menanam berbagai macam sayuran seperti selada, pakcoy, kangkung hingga seledri yang panen secara kontinyu, Oka memberanikan diri menawarkan hasil produksinya ke sejumlah rumah makan di banjarmasin. Gayung bersambut, restoran pizza terkemuka berlangganan dengannya dengan mengambil 5 kilogram sayur setiap harinya.

Usaha Oka terus berkembang, hingga kini sudah beberapa mitra yang digandengnya seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kalimantan Selatan yang dikelola masyarakat dan pesantren. Selain itu Oka juga rajin melakukan sosialisasi kesekolah-sekolah, bahkan ia sudah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin untuk membuat media tanam hidroponik di 40 sekolah.

Dalam kerjasama membangun greenhouse, Oka berperan memberikan pendampingan mulai bimbingan bercocok tanam hidroponik dari penyemai bibit, memindahkan hingga memanen sayuran. Menurutnya, semakin banyak orang yang berkecimpung dalam usaha hidroponik maka semakin banyak pula sayuran yang bisa dihasilkan untuk memenuhi permintaan pasar sehingga berdampak baik bagi usahanya. Peran Oka juga sekaligus sebagai pengepul yang memasok sayur kepasaran dari para pembudidaya.

Salah satu cara untuk memenuhi permintaan pasar, Oka membentuk Komunitas Petani Berdasi (Komisi). Anggotanya dibantu untuk belajar cara memasang jaringan pipa media tanam. Kemudian Oka juga memberikan edukasi hingga harga yang lebih murah dan umum jika membeli darinya. Berkat jaringan bisnis budidaya sayur hidroponik yang terus berkembang, kini Omzetnya sekitar Rp. 1,2 Miliar.

Oka menekankan kepada anak muda untuk agar berani menjadi petani. Iapun mengajak para generasi milenial untuk menjadi petani yang cerdas yang bisa menguasai hulu hingga kehilirnya.

Kisah lain tentang petani milenial yang sukses, datang juga dari peternak dan pengolah hasil pertanian. Dimual dalam liputan6.com ada M. Tanfidzul Khoiri atau lebih akrab dipanggil Khoiri yang merupakan seorang peternak asal Madiun, Jawa Timur. Karena kesuksesannya, bahkan Khoiri dinobatkan sebagai Duta Petani Muda Indonesia pada tahun 2014. Khoiri berhasil mengembangkan bidang peternakan mulai dari budidaya kambing dan domba, membuat pakan silase dan konsentrat, pupuk organik, perlengkapan ternak ruminansia hingga melayani aqiqah siap saji dan kambing guling.

Usaha yang telah ditekuni selama 8 tahun ini membuahkan hasil yang memuaskan. Kini ia menjabat sebagai Owner Kandank Oewang, Ketua P4S LKPNU (Lembaga Kajian dan Pengembangan Potensi Umat) yang dibina Pusat Pelatihan Pertanian dan Ketua koperasi slamet agriculture Jawa Timur.

Khoiri mengaku bahwa pemasukan dari penjualan silase dan konsentrat, ternak domba, pupuk organik, melayani aqiqah siap saji dan kambing guling serta pelatihan bias mencapai 90 juta perbulan. Jika dikalkulasikan dalam satu tahun, maka penghasilannya mencapai Rp 1,080,000.000.

Menurut Khoiri, profesinya ini sangat keren. Ada banyak manfaat dari profesi sebagai peternak atau terlibat dalam bidang pertanian, di antaranya adalah kebebasan mengatur waktu, sehat secara fisik karena senantiasa berkeringat dan dapat berkomunikasi secara batin pada ternak yang diusahakan.

Selain itu menurutnya, dalam hal finansial orang yang fokus dalam bidang peternakan bisa memiliki penghasilan yang lebih baik dari profesi lainnya, ada penghasilan harian, mingguan, bulanan dan tahunan.

Khoiri mencontohkan dengan domba 80 ekor ada yang beranak dan ada yang dibeli peternak lain, produksi kotoran setiap hari rata-rata 80 kg dan harga jual kompos per karung kecil Rp 20.000, produksi silase setiap bulan 30 ton dengan harga Rp 1100/kg, konsentrat produksi per bulan 30 ton dengan harga Rp 4500/kg, penjualan domba untuk aqiqah dengan harga 1,5 – 2,5 Juta, dari usaha ini omzet yang bergerak setiap bulan adalah Rp. 90 juta atau dalam setahun Rp 1,08 Miliar.

Khoiri berharap agar generasi muda tidak takut untuk bermimpi menjadi peternak. Menurutnya beternak itu menjanjikan dan menguntungkan. Sudah semakin banyak yang merasakan manfaat dari sisi finansial jika fokus di bidang peternakan, bahkan ada diantara rekannya yang menjadi pengelola P4S sesama petani muda mampu mendapatkan keuntungan hingga Rp. 100 juta dalam sebulan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyampaikan bahwa sudah saatnya pembangunan pertanian dilanjutkan oleh generasi milenial yang saat ini semakin cerdas dalam mencari peluang bisnis, mereka yang telah terjun dan mencintai dunia pertanian/peternakan akan semakin menguasai bagaimana mengembangkan pertanian/peternakan mulai dari hulu sampai hilirnya menjadi peluang bisnis.

Dedi menambahkan jika pertanian dan peternakan dipadukan dengan memanfaatkan teknologi digital, seperti startup maka akan semakin menjanjikan tentunya. Jumlah startup pertanian yang semakin bertambah dan meningkat, membuktikan bahwa sektor pertanian termasuk di dalamnya bidang peternakan adalah sektor yang punya peluang besar untuk usaha dan menandakan regenerasi petani sedang berjalan.

Cerita lain juga datang dari Agitya Kristantoko, seorang pengusaha asal Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur yang menekuni bidang pengolahan hasil pertanian, seperti dimuat oleh pikiranrakyat.com. Mas Tyo, begitu panggilan akrabnya mempunyai komitmen dan konsistensi terhadap bidang pertanian, yang kini menjadi pekerjaannya. Semangat dan keuletannya di sektor pertanian, khususnya mengolah makanan ringan berbahan dasar singkong, telah berhasil ia kembangkan.

Sebelumnya, Mas Tyo ini merupakan alumni peserta sertifikasi kompetensi bidang Pengolahan Hasil Pertanian. Berkat ilmunya, kini ia sudah menjadi Asesor Kompetensi di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pertanian, Pusat Pelatihan Pertanian, Kementerian Pertanian. Pemilik Omah Menyok Gading dan tempat pelatihan sekaligus Agrowisata Edukasi Kuliner Omah Menyok di Jawa Timur ini, telah memproduksi 155 jenis olahan hasil dari singkong. Olahan makanan ringan itu bermacam-macam, mulai dari rengginang singkong, kripik singkong, dan olahan makanan ringan lainnya, tentunya dengan pengemasan yang cukup menarik.

Mas Tyo memberi merk dagangnya Gading yang bisa dipesan secara online. Bahkan, kini produknya telah dipasarkan ke berbagai toko-toko dan pusat perbelanjaan. Berkat kegigihannya dalam usaha, kini ia mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 75 juta hingga 100 Juta dalam sebulan. Namun, bagi Mas Tyo omzet sebesar itu belum seberapa dibandingkan kepuasan batin saat memberikan pendampingan, pelatihan, dan bimbingan kepada petani, kelompok wanita tani, mahasiswa, siswa sekolah menengah, dan kelompok masyarakat lainnya.

Menurut Mas Tyo, saat ini gerenasi muda di sektor pertanian sudah mulai bertumbuh dan semakin banyak meskipun di era milenial seperti ini, sektor ekonomi kreatif lebih banyak dipilih sebagai opsi oleh generasi muda daripada di sektor pertanian. Ia menambahkan masih sangat banyak peluang yang bisa dikembangkan dalam bidang pertanian. Oleh karena itu, Mas Tyo berharap agar generasi muda tidak takut untuk bermimpi menjadi petani.

Saat ini semua bidang usaha pada umumnya dipaksa untuk masuk dan lebih mendalami era revolusi industri seperti sekarang, di mana segala sesuatu tidak lagi konvesional namun semua kini bisa dimanfaatkan melalui digital. Namun sayang, pandemi covid-19 telah memukul semua sektor keidupan, hampir semua bidang usaha sudah menghentikan usahanya. Berbeda dengan pengusaha dalam bidang pertanian, meskipun dalam kondisi pandemi covid-19, pengusaha masih tetap bisa meraup omzet yang tinggi bahkan bisa menjadi berkali lipat. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (PPSDMP), meminta di tengah mewabahnya virus corona, petani pengusaha milenial harus mampu memanfaatkan peluang ini.

Belakangan, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian menggagas program Ayo Galakan Ekspor bagi Generasi  Milenial Bangsa atau Agro Gemilang.  Kegiatan tersebut bermaksud mendorong semangat para petani dan pelaku agribisnis agar dapat masuk ke pasar ekspor dengan melakukan pemenuhan persyaratan SPS (sanitary and phytosanitary) negara asal. Peserta akan mendapatkan materi dan bimbingan teknis secara langsung. Program Agro Gemilang yang dilakukan Barantan tersebut berkesinambungan, tidak hanya berhenti saat pelatihan namun dapat berlanjut hingga petani atau eksportir dapat memenuhi persyaratan SPS negara tujuan.

Banyak sekali produk-produk pertanian Indonesia yang menjadi komoditas ekspor. Tentu saja produk-produk ini menyumbang devisa yang tidak sedikit. Beberapa produk unggulan ekspor dari sektor pertanian adalah karet, sawit, kakao dan kopi. Berdasarkan data yang dibimpun dari situs pertanian.go.id, karet dan produk karet menempati posisi pertama. Data merupakan data perbandingan di tahun 2017 dan 2018, tercatat sejak Januari hingga Juni 2017 total ekspor yang dilepas ke Amerika Serikat mencapai 1.020.3 ton. sedangkan lalu lintas di 2018 mencapai 817.7 ton. Pasar ekspor berikutnya ditempati Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan nilai 667.4 ton untuk periode Januari-Juni dan 317.0 ton untuk lalu lintas di tahun 2018.

Kedua, pasar ekspor kelapa sawit menembus pasar India sebagai negara pengimpor tertinggi dengan angka 2.521.6 ton untuk periode Januari dan Juni 2017. Sedangkan tahun 2018 angkanya mencapai 1.4909.4 ton. Pada urutan selanjutnya, Republik Rakyat Tiongkok mengimpor kelapa sawit sebanyak 802.1 ton untuk periode 2017 dan 948.1 ton untuk periode 2018.

Pada posisi ketiga, produk kakao dengan pasar ekspor paling banyak menembus 147.9 ton untuk negara tujuan Amerika Serikat. Setahun berlalu, jumlahnya naik menjadi 170.9 ton. Sedangkan Malaysia mengimpor produk Indonesia dengan jumlah 83.8 ton dan 63.7 ton untuk tahun 2018.

Keempat, hasil produksi petani kopi Indonesia menembus pasar Amerika Serikat dengan nilai ekspor mencapai 138.8 ton untuk tahun 2017 dan 123.6 ton untuk tahun 2018. Selanjutnya, negara ekspor kedua ditempati Jerman dengan total ekspor mencapai 42.3 ton.

Nilai ekspor pertanian indonesia naik 25,19 persen atau senilai US$ 0,32 miliar. Kenaikan, utamanya didorong pula oleh ekspor sarang burung, kopi, tanaman hutan, aromatik dan rempah-rempah serta logam dasar mulia.

Selain program Agro Gemilang, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian juga mempunyai inovasi lain berupa aplikasi yang bernama Indonesian Maps of Agricultural Commodities Export atau I-MACE. Dalam aplikasi ini tergambar produk-produk pertanian unggulan tiap daerah yang menjadi komoditas ekspor unggulan.

Data dan informasi diatas sudah seharusnya menjadi pendorong dan pemberi semangat kepada generasi milenial. Indonesia dengan segala keunikannya mempunyai keanekaragaman hayati yang mengagumkan.

Salah satu kisah mengenai petani milenial yang sukses sebagai eksportir pernah dimuat oleh Tribunnews.com. Muhamad Rian Saputra, berusia 29 tahun memiliki semangat yang tinggi sehingga ia mampu mengekspor produk pertanian hingga ke mancanegara, setidaknya sudah 10 negara yang sudah order produk pertanian dari dirinya. Keberhasilan Rian tentu tidak diraih secara instan. Sejak berbisnis, dia menerapkan prinsip fokus dan siap banting tulang.

Kini bisnis Rian sudah mencapai nilai Rp. 14 Miliar. Adapun produk yang diekspor antara lain komoditi buah naga, manggis, jambu, cabai, pete, dan durian. Melalui website, Rian mampu memasarkan hasil pertaniannya hingga memikat para investor dari luar negeri. Berawal dari sekedar mengurus dokumen di kantor Karantina Pertanian, dirinya belajar prosedur ekspor. Tak tanggung-tanggung, investor dari Rusia bahkan sudah mengontraknya dengan nilai 5 juta dolar dalam kurun waktu lima tahun.

Meski begitu, ia tetap berharap ada bantuan dari pemerintah, agar tidak perlu mencari dari luar negeri. Ia ingin usahanya bisa bermanfaat di negeri sendiri dan membantu pertumbuhan perekonomian.Rian sudah ditawari Kredit Usaha Rakyat (KUR), menurutnya program ini sangat cocok baginya sehingga ia tidak perlu lagi menerima investasi dari luar negeri.

Tahun 2020, pemerintah mengeluarkan KUR Pertanian dengan bunga rendah yakni 6 persen dan tanpa agunan untuk pinjaman maksimal Rp 50 juta. Para petani pun mendapatkan keringanan untuk membayarnya, yakni dapat dibayar dan boleh dicicil pada saat produk pertaniannya sudah menghasilkan (panen).

Program terobosan dari Kementerian Pertanian ini total menyediakan dana segar Rp. 50 Trilliun. Dengan adanya KUR tersebut, diharapkan para petani dan eksportir bisa memanfaatkannya dengan baik untuk mengembankan usaha pertanian yang dimilikinya. Kesejahteraan petani pun bisa meningkat dengan intervensi permodalan pemerintah.

Kisah lain datang dari Bali seperti dimuat oleh Gatra.com. Agung Weda memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dengan mengembangkan aplikasi. Cara bertani Agung cukup unik dan kekinian. Ia menggunakan aplikasi yang bernama Farmer App, sementara untuk penjualan menggunakan BOS Fresh Retail. Untuk pendanaan Agung bersama komunitasnya membentuk program yang bernama nabung tani, tujuannya adaalah  untuk membantu petani yang tidak punya biaya.

Selain sebagai Ketua Komunitas Petani Muda Keren (PMK), Agung juga menjadi Owner Bali Organik Subak atau BOS. Menurutnya BOS sudah mengekspor manggis dari tahun 2018 dan menjadi yang terbesar di Bali untuk volume, bahkan nilai ekspornya hampir menyentuh angka Rp. 100 miliar dengan volume 850 ton.

Aplikasi farmer app (Foto : Perspective News)

Selain manggis, ada beberapa komoditas yang ikut diekspor sawo, alpukat, dan mangga. Untuk mangga sudah menembus pasar Singapura dan rambutan ke Timur Tengah.

Saat ini ia juga sedang berusaha mengembangkan alpukat khas, alpukat aligator, ada varian mentega. Selain pasar domestik, alpukat ini sangat diminati pasar Kamboja.

Di tempat yang sama, Direktur Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Sukam Pawardi mengatakan, saat ini pertanian Indonesia sudah memiliki sistem canggih dengan kehadiran Agriculture War Room (AWR) dan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) yang bisa berjalan beriringan dengan BOS. Ia menilai, AWR dan Kostrtani akan berhasil dan diakui perannya oleh masyarakat jika mengetahui apa yang harus diperbuat oleh petani sesuai permintaan pasar.

Dari beberapa kisah diatas membuktikan bahwa peluang usaha dibidang pertanian terbuka lebar. Ujang Margana yang mantap memilih petani sebagai pekerjaan utamanya telah mampu membuat perubahan-perubahan besar bersama kelompok taninya. Tidak hanya berguna bagi diri sendiri, perubahan yang dilakukan memberikan manfaat bagi banyak orang, bahkan berkat kegigihannya iapun mendapatkan predikat sebagai petani teladan tingkat Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat, serta mendapatkan penghargaan dari Presiden Joko Widodo. Meidiantie dan Wijayanto Wiwik yang sukses menjadi petani pekarangan telah membuktikan bahwa berkat kreatifitas, ditengah keterbatasan lahanpun bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan . Oka sukses dengan usaha hidroponiknya, memanfaatkan informasi yang didapatkan dari internet membuktikan bahwa usahatani sangat mudah dipelajari, bahkan kini setelah ia sukses ia sudah bisa memberikan pendampingan bagi orang lain yang ingin belajar hidroponik. Khoiri yang berhasil mengembangkan bidang peternakan mulai dari budidaya kambing dan domba, membuat pakan silase dan konsentrat, pupuk organik, perlengkapan ternak ruminansia hingga melayani aqiqah siap saji dan kambing guling. Selain usaha budidaya baik itu pertanian maupun peternakan, ada beberapa kisah sukses juga dibidang pengolahan hasil pertanian dan ekspor. Mas Tyo yang berhasil dengan usaha olahan keripiknya. Serta Rian dan Agung yang menjadi eksportir dibidang pertanian.

Kisah dari para generasi milenial sukses diatas sudah seharusnya menginspirasi generasi milenial lainnya. Saat ini jumlah pengusaha di Indonesia hanyalah 3% daritotal jumlah penduduk yang ada, tertinggal dari negara-negara Asean lainnya seperti Malaysia yang sudah 6%, Thailand 5%, dan Singapura 7%. Tantangan Indonesia saat ini adalah menciptakan sistem pertanian maju, modern, dan kekinian yang  diharapkan para generasi milenialah yang mengeksekusinya. Pemerintah sudah memberikan bantuan-bantuan lewat beberapa program sebagai bentuk dukungan. Bagaimana para milenial, siapkah kalian untuk menjadi petani yang sukses ?

 

Aep Cahyanto

 




 

 

 

 

 

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

LanGasKara itu wajib militernya karantina.

Bagi kalian yang bergabung di Kementerian Pertanian khususnya Badan Karantina Pertaian, hal pertama yang wajib diikuti adalah LanGasKaRa, baik oleh POPT, Dokter Hewan, Paramedik, maupun Fungsional Umum. Keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Adi Sutjipto LanGasKaRa adalah singkatan dari Latihan Pengenalan Tugas Karantina, aku sendiri ikut kegiatan ini di Tahun 2015 di STPP Yogyakarta, dan Asama Haji Yogyakarta. Ada perbedaan dibandingkan dengan para seniorku yang mengikuti kegiatan ini di Rindam Jaya Jakarta. Kegiatan berlangsung selama 2 minggu, di minggu pertama mental dan fisik harus benar-benar kuat. Aku rasa ini mirip ketika kita diorientasi sebagai anak baru dengan pola latihan mirip calon Paskibraka. Menginap di asrama haji, dan kegiatan terpusat di STPP, menuntut kita harus disiplin dalam manajemen waktu, gak boleh kesiangan. Latihan baris berbaris bersama Brimob Polda D.I.Y Tiga hari pertama adalah latihan baris berbaris yang di...

Prajabatan Dulu Biar Gajimu Jadi 100%

Buat kamu yang lulu CPNS, selamat ya... Selamat bergabung menjadi abdi negara. Kali ini aku mau sharing pengalamanku mengikuti Diklat Prajabatan di Tahun 2015. Apa itu diklat prajabatan ? Diklat Prajabatan adalah adalah syarat bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Aku sendiri lulus CPNS di tahun 2014, TMT Maret 2015, SPMT Juni 2015, dan Prajabatan Agustus 2015. Bagi yang masih bingung dengan TMT dan SPMT, aku jelasin satu-satu ya. TMT adalah terhitung mulai tugas yang tercetak di SK CPNS dan ditandatangani oleh Menteri, sementara SPMT adalah Surat Perintah Mengerjakan Tugas dan ditandangani Kepala Balai Unit Kerja. Gaji, tukin, uang makan, dan lain sebagainya akan keluar setelah diterbitkannya SPMT. Tahun 2015, adalah tahun pertama diberlakukannya prajabatan model baru, seperti apa ? simak sampai selsai ya. Aku mengkuti diklat prajabatan di PPMKP Ciawi-Bogor. Prajabatan model baru ini persis kayak ...