Skip to main content

Jelajahi Langit Sumatera dalam Satu Kali Perjalanan

Mengudara melintasi langit Sumatera dalam satu perjalanan adalah sebuah pengalaman yang begitu menarik, tidak hanya mengunjungi beberapa kota tetapi sekaligus menyinggahi bandara-bandara keren yang ada di bumi swarnadwipa. Kali ini saya akan me-review bagaimana keadaan dari masing-masing bandara tersebut.

Bandara Sultan Thaha Jambi
Bandara ini adalah titik pertama perjalanan saya, Tujuan utamanya adalah menuju Kota Medan, tapi karena tidak ada penerbangan langsung jadi akhirnya saya transit sejenak di Bandara Hangnadim Batam. Bandara Sultan Thaha ini mungil sekali dan hanya ada 2 gate. Bangunan yang masih baru merupakan daya tarik tersendiri bagi bandara ini, hanya saja akses jalan yang belum 100% memadai.
Jika bicara ruang tunggu, saya mungkin akan memberi nilai 80, tempat duduk dan karpetnya begitu nyaman. Keterbatasan rute dan jumlah penerbangan membuat bandara ini sepi, sampai saat ini statusnya masih domestik. Naik turun pesawatpun sudah difasilitasi dengan garbarata jadi kita gak usah panas-panasan dan semuanya terasa nyaman.
Boarding Room Sultan Thaha

Terminal Keberangkatan Sultan Thaha

Bandara Internasional Hangnadim Batam
Selamat pagi Batam, itulah tweet saya ketika Lion Air yang membawa saya dari Jambi mendarat di Batam. Ternyata Hangnadim panas banget walaupun begitu tetap saya menikmatinya. Lalu lintas udara begitu ramai, berbeda jauh dengan Sultan Thaha. Hanya sebentar saja persinggahan saya di Pulau Bintan ini. Dengan ramah petugas memberi tahu bahwa transit menuju Kuala Namu berada di gate 7. Tak senyaman ruang tunggu Sultan Thaha, namun ragam outlet makanan mudah sekali dijumpai disini. Beruntungnya saya bertemu dengan teman saya dari Bengkulu, dengan tujuan yang sama tentunya kami naik pesawat yang sama juga. Saya tidak menikmati seutuhnya Hangnadim, karena lebih menikmati obrolan sambil menumpahkan bermacam pertanyaan untuk membunuh rasa penasaran satu sama lain. Tak lama berselang, diumumkanlah bahwa pesawat menuju Deli Serdang siap berangkat, sayangnya tidak ada garbarata. Tidak ada pilihan selain jalan kaki dan menikmati teriknya matahari Kepulauan Riau.
Boarding Room Hangnadim



Bandara Internasional Kuala Namu Deli Serdang
Saya begitu jatuh cinta dengan Bandara ini. Luas, megah, nyaman semuanya untuk Kuala Namu. Bandara dengan fasilitas kereta pertama di Indonesia. Sudah terlanjur jatuh hati, tetapi jemputan sudah menunggu. Namun tenang saja rasa cinta saya pada Kuala Namu akan berlanjut ketika perjalanan pulang.
Kuala Namu ini persis seperti Terminal 3 Ultimate, karpetnya, ruang tunggunya, kursinya ah begitu memanjakan. Tak seluas Terminal 3, kita tak akan merasa kecapean mengelilingi bandara ini. Menyambut gegap gempita Asian Games, Kuala Namu pun tak henti memutarkan lagu Meraih Bintang. Satu lagi yang membuat saya jatuh cinta, wifinya bos kenceng bat dah. Bandara yang terletak diantara perkebunan sawit, kelapa dan pesawahan ini terlihat semakin elok dengan taman ulos yang membentang mempesona dibagian serambinya. Dari Deli Serdang, saya bertolah ke Minangkabau.
Check In Kuala Namu

Boarding Room Kuala Namu


Bandara Internasional Minangkabau Padang.
Dengan bangunannya yang khas, Minangkabau memang terlihat berbeda. Ini adalah transit saya menuju Jambi. Saya merasa kerepotan karena penumpang transit harus keluar dulu dan kembali lagi menuju terminal keberangkatan. Tidak terlalu luas, ruang tunggunya standar saja, pilihan makanan didominasi oleh makanan Padang. Wajar saja sih, diluaran sana yang namanya nasi Padang merajai semua warung nasi, apalagi di tanahnya sendiri. Sudah mulai capek, saya tidak terlalu menikmatinya. Hanya saja pemandangan yang berbeda dapat dilihat dari udara dengan berbagai macam pilihan dalam satu pandangan. Laut, bukit, danau berada dalam satu bingkai yang sama, yaitu pemandangan dari cakrawala dalam satu waktu.
Boarding Room BIM

Bandara Internasional Minangkabau Tampak Depan


Sebenarnya ada dua bandara lagi yang pernah saya kunjungi di Pulau Sumatera ini, yaitu Sultan Mahmud Badaruddin 2 Palembang dan Fatmawati Soekarno Bengkulu.

Dan itulah pengalaman saya melintasi langit Sumatera, perjalanan yang penuh inspirasi tentunya.

Comments

Popular posts from this blog

Siapa Takut Jadi Petani

    Pertanian adalah sektor yang memegang peranan penting dalam sebuah negara. Sebagai penyedia kebutuhan pokok dan bahan baku, sektor ini juga menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit. Namun sangat disayangkan, minat dari generasi muda untuk menjadi petani sangatlah jarang, karena petani selalu diidentikan dengan pekerjaan yang bermain dengan lumpur dan panas-panasan dibawah terik matahari. Para petani kita saat ini rata-rata berusia 45 tahun keatas, artinya mereka sudah memasuki usia pensiun. Bahkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa pekerja di sektor pertanian per Agustus 2018 berjumlah 35,7 juta orang atau 28,79% dari jumlah 124,01 juta jiwa penduduk yang bekerja. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,89% dari tahun sebelumnya. Mengapa generasi milenial enggan menjadi petani?. Generasi milenial saat ini lebih memilih untuk bekerja kantoran. Padahal ketersediaan lowongan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja itu sendi...

LanGasKara itu wajib militernya karantina.

Bagi kalian yang bergabung di Kementerian Pertanian khususnya Badan Karantina Pertaian, hal pertama yang wajib diikuti adalah LanGasKaRa, baik oleh POPT, Dokter Hewan, Paramedik, maupun Fungsional Umum. Keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Adi Sutjipto LanGasKaRa adalah singkatan dari Latihan Pengenalan Tugas Karantina, aku sendiri ikut kegiatan ini di Tahun 2015 di STPP Yogyakarta, dan Asama Haji Yogyakarta. Ada perbedaan dibandingkan dengan para seniorku yang mengikuti kegiatan ini di Rindam Jaya Jakarta. Kegiatan berlangsung selama 2 minggu, di minggu pertama mental dan fisik harus benar-benar kuat. Aku rasa ini mirip ketika kita diorientasi sebagai anak baru dengan pola latihan mirip calon Paskibraka. Menginap di asrama haji, dan kegiatan terpusat di STPP, menuntut kita harus disiplin dalam manajemen waktu, gak boleh kesiangan. Latihan baris berbaris bersama Brimob Polda D.I.Y Tiga hari pertama adalah latihan baris berbaris yang di...

Prajabatan Dulu Biar Gajimu Jadi 100%

Buat kamu yang lulu CPNS, selamat ya... Selamat bergabung menjadi abdi negara. Kali ini aku mau sharing pengalamanku mengikuti Diklat Prajabatan di Tahun 2015. Apa itu diklat prajabatan ? Diklat Prajabatan adalah adalah syarat bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Aku sendiri lulus CPNS di tahun 2014, TMT Maret 2015, SPMT Juni 2015, dan Prajabatan Agustus 2015. Bagi yang masih bingung dengan TMT dan SPMT, aku jelasin satu-satu ya. TMT adalah terhitung mulai tugas yang tercetak di SK CPNS dan ditandatangani oleh Menteri, sementara SPMT adalah Surat Perintah Mengerjakan Tugas dan ditandangani Kepala Balai Unit Kerja. Gaji, tukin, uang makan, dan lain sebagainya akan keluar setelah diterbitkannya SPMT. Tahun 2015, adalah tahun pertama diberlakukannya prajabatan model baru, seperti apa ? simak sampai selsai ya. Aku mengkuti diklat prajabatan di PPMKP Ciawi-Bogor. Prajabatan model baru ini persis kayak ...