Skip to main content

Saya Bangga Pernah Menjadi Penyuluh Pertanian

Menjadi seorang Penyuluh Pertanian adalah sebuah kebanggan, lulus dari SPP Tanjungsari di Juni 2011, Desember 2011 ikut seleksi, dan Maret 2012 tandatangan kontrak sebagai Penyuluh Pertanian. Selama tiga tahun saya menajalani profesi ini di dua kabupaten, yaitu Bogor dan Bandung, dan di Kabupaten Bandunglah saya menghabiskan waktu selama 2 tahun 5 bulan mengabdi sebagai insan pertanian. Fokus utama waktu itu adalah mendukung peningkatan beras nasional, sebanyak 1.000 penyuluh muda lulusan SPP dan Universitas terkemuka di Jawa Barat direkrut dan ditempatkan diseluruh Kabupaten/Kota. Bagi saya menjadi seorang penyuluh pertanian bukan saja mengaplikasikan ilmu yang selama ini didapat di bangku sekolah, lebih dari itu saya bisa lebih leluasa menimba ilmu langsung dari petani. Kecamatan Ibun, Majalaya, Rancaekek, dan Solokanjeruk Kabupaten Bandung, itulah wilayah yang setiap harinya saya lalui. Daerah yang kaya akan potensi pertanian, dengan struktrur masyarakatnya yang sudah mengalami modernisasi. Banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan, dari mulai belajar menjadi seorang inisiator, motivator, penghubung antara kebijakan pemerintah dan penyampai aspirasi petani, manajemen waktu, bahkan menjadi seorang pembicara di depan umum. Terjun langsung kelapangan itu sangat menyenangkan, hijaunya lahan pesawahan dan hangatnya para kelompok tani selalu memberi energi positif bagi saya.
Setelah tiga tahun berlalu akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menjadi seorang penyuluh, tapi hal ini bukan berarti saya berhenti menjadi seorang insan pertanian. Di tahun 2015 saya bergabung dengan Kementerian Pertanian dan meninggalkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, untuk bekerja sebagai Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Badan Karantina Pertanian.

Indonesia memang dikaruiniai oleh suburnya lahan pertanian, sungguh sebuah mukjizat yang harus disyukuri. Namun sayang SDM pertanian yang belum memadai, ditambah lagi aplikasi teknologi yang masih minim menjadi permasalahan utama mengapa pertanian kita jalan ditempat. Kebanyakan petani adalah buruh bukanlah pemilik lahan utama, selain itu petani kita didominasi oleh para orang tua. Sungguh susah mengajak generasi muda untuk ikut terjun langsung ke dunia pertanian, mereka beranggapan bahwa dunia pertanian itu identik dengan kotor, panas, dan lumpur. Anak muda lebih senang jika mereka bekerja di kantoran, duduk manis di ruangan ber-ac sambil memainkan gadget dan aktif di media sosial.
Tingginya angkatan kerja setiap tahunnya tidak diimbangi dengan lowongan pekerjaan yang disediakan. Saya yakin jika generasi muda ini kreatif dan mengenyampingkan ego mereka serta tidak malu untuk menjadi petani, masalah pengangguran tentunya dapat teratasi walau tak sepenuhnya. Di zaman yang semakin modern, pertanian tidak hanya dapat dilakukan di lahan yang luas saja, tetapi dilahan yang terbataspun bisa dilakukan sebagai contoh hidroponik. Masih banyak lagi teknologi pertanian yang dikembangkan saat ini, dan ini adalah peluang bagi generasi milenial untuk menjadi agripreneur.
Terlahir dari keluarga petani dan bekerja di Kementeria Pertanian sampai saat ini sayapun masih menjadi seorang petani. Saya mengajak teman-teman generasi muda, untuk membangkitkan pertanian Indonesia dan menjadi pengusaha-pengusaha agribisnis yang menginspirasi.
Beberapa program unggulan ketika menjadi seorang penyuluh pernah saya pegang diantaranya adalah SLPTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu). Melalui sekolah ini, petani diarahkan untuk mengoptimalkan input (modal) yang ada melalui pengamatan dan pengambilan keputusan berdasarkan evaluasi dengan memadukan teknologi spesifik lokasi yang cocok dengan wilayah tersebut. Disebut sebagai sekolah lapangan karena kegiatan belajar berlangsung di persawahan dimana akan terdapat laboratorium lapang berupa petak sawah yang menjadi lokasi pengamatan. Tujuannya adalah meningkatnya pengetahuan , keterampilan dan sikap petani sehingga penerapan adopsi teknologi PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi berjalan lebih cepat, berkelanjutan serta replikasi ke areal yang lebih luas dapat terwujud. Selain SLPTT ada juga KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari), sebuah program yang mendorong pemanfaatan pekarangan sekitar untuk ditanami oleh berbagai macam jenis sayuran sehingga dapat mengurangi anggaran belanja bahkan bisa menambah penghasilan.
Dunia pertanian merupakan sektor utama, paling penting, dan menjanjikan. Ketika berbicara mengenai pertanian berarti kita bicara urusan perut. Maka dari itu industri pertanian adalah industri yang tak pernah mati.
Salam Inspirasi, Salam Pertanian.
Penyuluh Gaya Pertanian Jaya.

Comments

Popular posts from this blog

Siapa Takut Jadi Petani

    Pertanian adalah sektor yang memegang peranan penting dalam sebuah negara. Sebagai penyedia kebutuhan pokok dan bahan baku, sektor ini juga menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit. Namun sangat disayangkan, minat dari generasi muda untuk menjadi petani sangatlah jarang, karena petani selalu diidentikan dengan pekerjaan yang bermain dengan lumpur dan panas-panasan dibawah terik matahari. Para petani kita saat ini rata-rata berusia 45 tahun keatas, artinya mereka sudah memasuki usia pensiun. Bahkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa pekerja di sektor pertanian per Agustus 2018 berjumlah 35,7 juta orang atau 28,79% dari jumlah 124,01 juta jiwa penduduk yang bekerja. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,89% dari tahun sebelumnya. Mengapa generasi milenial enggan menjadi petani?. Generasi milenial saat ini lebih memilih untuk bekerja kantoran. Padahal ketersediaan lowongan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja itu sendi...

LanGasKara itu wajib militernya karantina.

Bagi kalian yang bergabung di Kementerian Pertanian khususnya Badan Karantina Pertaian, hal pertama yang wajib diikuti adalah LanGasKaRa, baik oleh POPT, Dokter Hewan, Paramedik, maupun Fungsional Umum. Keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Adi Sutjipto LanGasKaRa adalah singkatan dari Latihan Pengenalan Tugas Karantina, aku sendiri ikut kegiatan ini di Tahun 2015 di STPP Yogyakarta, dan Asama Haji Yogyakarta. Ada perbedaan dibandingkan dengan para seniorku yang mengikuti kegiatan ini di Rindam Jaya Jakarta. Kegiatan berlangsung selama 2 minggu, di minggu pertama mental dan fisik harus benar-benar kuat. Aku rasa ini mirip ketika kita diorientasi sebagai anak baru dengan pola latihan mirip calon Paskibraka. Menginap di asrama haji, dan kegiatan terpusat di STPP, menuntut kita harus disiplin dalam manajemen waktu, gak boleh kesiangan. Latihan baris berbaris bersama Brimob Polda D.I.Y Tiga hari pertama adalah latihan baris berbaris yang di...

Prajabatan Dulu Biar Gajimu Jadi 100%

Buat kamu yang lulu CPNS, selamat ya... Selamat bergabung menjadi abdi negara. Kali ini aku mau sharing pengalamanku mengikuti Diklat Prajabatan di Tahun 2015. Apa itu diklat prajabatan ? Diklat Prajabatan adalah adalah syarat bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Aku sendiri lulus CPNS di tahun 2014, TMT Maret 2015, SPMT Juni 2015, dan Prajabatan Agustus 2015. Bagi yang masih bingung dengan TMT dan SPMT, aku jelasin satu-satu ya. TMT adalah terhitung mulai tugas yang tercetak di SK CPNS dan ditandatangani oleh Menteri, sementara SPMT adalah Surat Perintah Mengerjakan Tugas dan ditandangani Kepala Balai Unit Kerja. Gaji, tukin, uang makan, dan lain sebagainya akan keluar setelah diterbitkannya SPMT. Tahun 2015, adalah tahun pertama diberlakukannya prajabatan model baru, seperti apa ? simak sampai selsai ya. Aku mengkuti diklat prajabatan di PPMKP Ciawi-Bogor. Prajabatan model baru ini persis kayak ...